Penggigit tali—panggigik tali—adalah istilah yang lazim disematkan kepada seseorang yang membangkang atas “keterkungkungan” dirinya.
Sengaja kata keterkungkungan diberi tanda petik dua, karena yang dimaksud bukanlah kurungan fisik, melainkan batasan-batasan yang melekat pada posisi, pekerjaan, jabatan, peran sosial, bahkan pilihan hidup seseorang.
Setiap keberadaan memiliki konsekuensi.
Setiap posisi memiliki batas.
Setiap penghormatan memiliki harga.
Seorang gubernur, bupati, atau wali kota adalah manusia biasa yang memiliki keinginan sebagaimana manusia lainnya.
Ia mungkin ingin berjalan santai tanpa pengawalan.
Ingin bercanda tanpa direkam kamera.
Ingin berpakaian sesuka hati.
Ingin bebas dari protokol.
Namun kebebasan tersebut dibatasi oleh status yang melekat padanya.
Ketika seseorang menerima sebuah posisi, sesungguhnya ia juga menerima batasan-batasan yang menyertainya.
Dan atas batasan itu terdapat kompensasi.
Kompensasi berupa penghormatan.
Kompensasi berupa pengaruh.
Kompensasi berupa kewenangan.
Kompensasi berupa kepercayaan masyarakat.
Dalam banyak keadaan, hubungan itu berlangsung seimbang.
Seseorang menerima batasan, lalu menerima kompensasi yang setara.
Tidak ada masalah.
Namun masalah muncul ketika seseorang ingin memperoleh kompensasi tanpa bersedia menerima batasannya.
Ia ingin dihormati, tetapi tidak ingin menjaga kehormatan.
Ia ingin memiliki kewenangan, tetapi tidak ingin memikul tanggung jawab.
Ia ingin menikmati status, tetapi tidak ingin terikat oleh aturan yang menyertainya.
Pada titik itulah lahir penggigit tali.
Seperti seekor hewan yang menggigit tali pengikatnya sendiri, ia memberontak terhadap batasan yang sesungguhnya menjadi konsekuensi dari pilihan yang telah diterimanya.
Dalam pandangan umum, penggigit tali sering dianggap sebagai pemberontak.
Namun dalam perspektif teisme, persoalannya lebih dalam daripada sekadar pemberontakan.
Persoalannya terletak pada hati yang chaos.
Chaos bukan berarti hati yang jahat.
Chaos adalah keadaan ketika fitur-fitur batin kehilangan keselarasan.
Akal memahami bahwa suatu posisi memiliki konsekuensi.
Hati sebenarnya mengetahui bahwa konsekuensi itu wajar.
Namun nafsu menolak menerimanya.
Nafsu ingin memperoleh manfaat tanpa menanggung beban.
Akal berkata, “Ini adalah aturan yang melekat pada posisi itu.”
Hati berkata, “Itu memang konsekuensinya.”
Tetapi nafsu berkata, “Mengapa aku yang harus dibatasi?”
Ketika ketiga fitur batin tersebut tidak lagi bergerak dalam irama yang sama, maka lahirlah kegelisahan.
Lahir rasa terkungkung.
Lahir perasaan menjadi korban.
Padahal sering kali tidak ada yang salah dengan tali itu.
Yang bermasalah adalah hubungan antara dirinya dengan tali tersebut.
Sebab tali yang sama dapat dirasakan berbeda oleh orang yang berbeda.
Orang yang selaras melihat tali sebagai konsekuensi.
Orang yang chaos melihat tali sebagai penjara.
Orang yang selaras memandang batas sebagai bagian dari amanah.
Orang yang chaos memandang batas sebagai musuh kebebasan.
Karena itu, persoalan penggigit tali sesungguhnya bukan persoalan tali.
Melainkan persoalan keselarasan.
Bukan soal aturan.
Melainkan soal penerimaan batin terhadap aturan.
Bukan soal jabatan.
Melainkan soal kemampuan fitur-fitur batin berdialektika hingga menemukan titik keseimbangan.
Dalam teisme, semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak tali yang melekat padanya.
Tetapi semakin selaras dirinya, semakin ringan tali itu terasa.
Sebaliknya, semakin chaos hatinya, semakin tipis tali terasa seperti rantai besi.
Maka kebebasan sejati bukanlah keadaan tanpa tali.
Sebab manusia selalu hidup dalam berbagai keterikatan.
Kebebasan sejati adalah kemampuan mencapai keselarasan dengan tali-tali yang memang menjadi konsekuensi keberadaan dirinya.
Karena sering kali yang membuat manusia menderita bukanlah batasan.
Melainkan penolakannya terhadap batasan tersebut.