Kemajuan Sejati: Peningkatan Keselarasan

Apakah keselarasan akal, hati, dan nafsu bisa meningkat?

Tentu bisa.

Bahkan, bila keselarasan tidak dapat meningkat, maka kehidupan manusia sesungguhnya berhenti pada satu titik. Tidak ada lagi pembelajaran. Tidak ada lagi pertumbuhan. Tidak ada lagi kemajuan.

Lalu, jika akal, hati, dan nafsu sudah selaras, apakah setelah itu manusia menjadi stagnan?

Tidak juga.

Sebab keselarasan bukanlah titik akhir. Keselarasan adalah kondisi keseimbangan pada suatu jenjang tertentu.

Seorang anak kecil bisa memiliki keselarasan antara akal, hati, dan nafsunya sesuai kapasitas seorang anak. Ia merasa cukup, memahami dunianya, dan hidup dengan tenang.

Namun ketika ia tumbuh dewasa, kapasitas akalnya bertambah, pengalaman hatinya bertambah, dan kebutuhan nafsunya pun berkembang. Keselarasan lama tidak lagi memadai.

Maka terjadi proses penyesuaian kembali.

Terjadi dialektika baru.

Terjadi pencarian titik keseimbangan yang baru.

Karena itu, keselarasan sejatinya bersifat dinamis.

Ia tidak berhenti pada satu titik, tetapi bergerak mengikuti perkembangan manusia itu sendiri.

Andaikan keselarasan dapat dibuat skalanya, maka kemajuan sejati bukanlah sekadar bertambahnya kekayaan, kekuasaan, atau pengetahuan.

Kemajuan sejati adalah meningkatnya tingkat keselarasan.

Misalnya pada tingkat pertama, akal memahami kebutuhan dasar kehidupan, hati menerima keadaan, dan nafsu tidak menuntut berlebihan.

Lahir ketenteraman.

Namun kemudian akal berkembang. Pengetahuan bertambah. Wawasan meluas.

Jika hati ikut berkembang dan mampu menerima pemahaman yang lebih luas, serta nafsu mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan baru secara proporsional, maka lahirlah tingkat keselarasan yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, akal naik.

Hati naik.

Nafsu naik.

Dan keselarasan pun ikut naik.

Tetapi tidak semua kenaikan menghasilkan keselarasan.

Akal dapat meningkat sementara hati tertinggal.

Seseorang mungkin sangat cerdas, tetapi kehilangan makna hidup.

Akalnya naik, tetapi keselarasannya justru turun.

Nafsu juga dapat meningkat lebih cepat daripada akal dan hati.

Keinginan membesar, tetapi kemampuan memahami dan mengendalikan tidak ikut bertumbuh.

Yang lahir bukan kemajuan, melainkan kegelisahan.

Karena itu, kemajuan dalam teisme bukanlah pertumbuhan salah satu unsur secara terpisah.

Kemajuan adalah pertumbuhan yang serempak dan proporsional.

Akal bertambah memahami.

Hati bertambah meyakini.

Nafsu bertambah matang.

Ketiganya bergerak naik dalam irama yang sama.

Seperti tiga sisi pada sebuah bangun yang membesar secara bersamaan. Ukurannya bertambah, tetapi bentuknya tetap seimbang.

Di sinilah letak perbedaan antara kemajuan dan pembesaran.

Tidak semua yang membesar berarti maju.

Sebuah negara dapat memperbesar ekonominya tetapi kehilangan ketenteraman sosial.

Sebuah organisasi dapat memperbesar kekuasaannya tetapi kehilangan kepercayaan.

Seorang manusia dapat memperbesar kekayaannya tetapi kehilangan kebahagiaan.

Itu pembesaran tanpa keselarasan.

Sebaliknya, ketika akal, hati, dan nafsu bertumbuh secara seimbang, maka lahirlah kemajuan yang sesungguhnya.

Karena hakikat kemajuan bukanlah bertambahnya ukuran kehidupan.

Melainkan meningkatnya keselarasan dalam kehidupan.

Dalam perspektif teisme, kesejahteraan adalah akibat.

Kekayaan adalah akibat.

Kekuasaan adalah akibat.

Sedangkan keselarasan adalah sebab.

Maka ukuran tertinggi kemajuan manusia, masyarakat, maupun peradaban bukanlah apa yang mereka miliki, melainkan seberapa tinggi tingkat keselarasan yang berhasil mereka capai.Link Internal Teisme:

Selaras Jenjang Berjenjang

Selaras dan Anekdot Kemajuan

Pemimpin yang Menginspirasi

Truk Overweight dan Peta Batin

Keselarasan sebagai Hakikat Kebahagiaan

Akal, Hati, Nafsu dan Kenyamanan Batin

Gotong Royong sebagai Manifestasi Keselarasan

Dialektika Akal, Hati dan Nafsu

Peta Batin dan Masa Depan Peradaban

Teori Kemajuan Berbasis Keselarasan

Mengapa Orang Cerdas Tidak Selalu Bahagia

Selaras dan Ukuran Kesejahteraan

Scroll to Top