Kemajuan sebuah negara pada hakikatnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Aneh rasanya bila sebuah negara disebut maju, namun rakyatnya masih bergelimang ketertinggalan.
Demikian pula kemajuan sebuah daerah—provinsi, kabupaten, maupun kota—diukur dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat setempat.
Dan kemajuan tersebut amat ditentukan oleh siapa pemimpinnya serta para pembantu-pembantunya.
Di negara manapun, para menteri yang duduk di kabinet selalu menjadi sorotan masyarakat, terutama ketika kabinet baru dibentuk.
Begitu pula di daerah. Para pejabat struktural—pembantu gubernur, bupati, dan wali kota—ikut menentukan arah kemajuan daerah.
Namun, apakah kesejahteraan identik dengan kebahagiaan? Apakah kemakmuran otomatis menghadirkan kenyamanan batin?
Ternyata tidak sesederhana itu.
Lihatlah berbagai data dunia. Negara-negara dengan pendapatan tinggi memang cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih baik. Namun hubungan itu tidak selalu lurus. Bahkan beberapa negara yang sangat kaya tidak menempati peringkat teratas kebahagiaan dunia. Sebaliknya, ada negara yang tidak termasuk paling kaya tetapi masyarakatnya merasa lebih puas terhadap kehidupannya.
Contoh paling menarik adalah Finlandia. Negara ini berulang kali menempati posisi teratas dalam laporan kebahagiaan dunia. Namun Finlandia bukanlah negara dengan produk domestik bruto terbesar di dunia. Yang membuat masyarakatnya merasa bahagia bukan semata-mata kekayaan, melainkan kepercayaan sosial, dukungan komunitas, kualitas layanan publik, rasa aman, dan hubungan antarmanusia yang sehat.
Di sisi lain, Indonesia pada tahun 2025 berada di sekitar peringkat 83 dalam laporan kebahagiaan dunia. Namun berbagai penelitian lain justru menunjukkan Indonesia memiliki tingkat kemurahan hati, gotong royong, dan bahkan indeks flourishing (kebermaknaan hidup) yang sangat tinggi.
Nah, di sinilah letak anekdot kemajuan.
Kesejahteraan ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan.
Pendapatan dapat membeli rumah yang lebih besar, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenteraman.
Jabatan dapat memberikan kekuasaan, tetapi tidak selalu menghadirkan rasa cukup.
Kemajuan ekonomi dapat mempercepat laju pembangunan, tetapi tidak selalu memperkuat makna kehidupan.
Dalam perspektif teisme, kebahagiaan atau kenyamanan sejatinya bukanlah produk langsung dari kekayaan. Kebahagiaan adalah manifestasi dari keselarasan.
Keselarasan antara apa yang dipahami akal, apa yang diyakini hati, dan apa yang diinginkan nafsu.
Ketika akal memahami sesuatu, hati membenarkannya, dan nafsu menerimanya, lahirlah rasa tenteram.
Sebaliknya, ketika akal mengatakan “cukup”, hati mengatakan “syukur”, tetapi nafsu mengatakan “kurang”, maka kegelisahan tetap hadir meskipun harta melimpah.
Karena itu, kemajuan yang sejati bukan sekadar bertambahnya angka pendapatan per kapita, panjang jalan, jumlah gedung, atau besarnya investasi.
Kemajuan sejati adalah bertambahnya keselarasan.
Sebab kesejahteraan tanpa keselarasan hanya melahirkan kemewahan yang gelisah.
Sedangkan keselarasan mampu menghadirkan kebahagiaan bahkan dalam kesederhanaan.
Maka ukuran tertinggi kemajuan bukanlah seberapa banyak yang dimiliki manusia, melainkan seberapa selaras manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dengan alam, dan pada akhirnya dengan Sang Pencipta.
—
Link internal Teisme:
Selaras dan Teori Kemajuan
Selaras Jenjang Berjenjang
Pemimpin yang Menginspirasi
Truk Overweight dan Peta Batin
Selaras dan Ukuran Kesejahteraan
Gotong Royong sebagai Manifestasi Keselarasan
Ketika Kaya Tidak Bahagia
Akal, Hati, Nafsu, dan Kenyamanan Batin
Keselarasan sebagai Hakikat Kebahagiaan
Peta Batin dan Masa Depan Peradaban