Secara fisika klasik, dua benda dengan frekuensi yang sama akan beresonansi. Karena itu resonansi didefinisikan sebagai turut bergetarnya suatu benda akibat getaran benda lainnya.

Serupa dengan itu, demikian pula halnya dengan batin manusia.

Pernahkah kamu merasa tetiba dekat saja dengan seseorang yang baru dikenal? Obrolan mengalir tanpa canggung. Pikiran terasa nyambung. Bahkan sebelum persahabatan itu terjalin, ada rasa akrab yang sulit dijelaskan.

Boleh jadi, itulah yang dalam bahasa sederhana disebut sebagai resonansi batin.

Sebaliknya, ada pula orang yang sudah lama dikenal, bahkan sering bertemu, tetapi tali batin tak kunjung terbuhul. Selalu ada jarak yang tak kasat mata. Tidak ada konflik. Tidak ada masalah. Namun entah mengapa, selalu ada rasa tidak sreg.

Kenapa bisa?

Jika kamu pernah mengalaminya, itu lumrah. Begitulah manusia.

Setiap manusia membawa frekuensi batinnya masing-masing. Frekuensi yang dibentuk oleh cara berpikir, keyakinan yang dipegang, keinginan yang dipelihara, dan pengalaman yang dijalani.

Dalam bahasa Nalareka, frekuensi batin itu dibentuk oleh dialektika akal, hati, dan nafsu.

Akal membentuk cara seseorang memahami dunia.

Hati membentuk cara seseorang memaknai dunia.

Nafsu membentuk cara seseorang merespons dunia.

Ketika ketiganya bergerak dalam arah yang relatif sama, lahirlah keselarasan batin. Dan dari keselarasan batin itulah terpancar frekuensi diri.

Karena itu, selaras tidak selalu berarti sama.

Dua orang bisa berbeda usia, berbeda pendidikan, bahkan berbeda latar belakang sosial. Namun mereka tetap dapat beresonansi karena memiliki kesamaan pada tingkat yang lebih dalam: cara memandang kehidupan.

Sebaliknya, dua orang yang berasal dari lingkungan yang sama belum tentu mampu beresonansi jika orientasi batinnya berbeda.

Kabar baiknya, frekuensi batin bukan sesuatu yang permanen.

Manusia diberi akal untuk belajar.

Diberi hati untuk memperbaiki keyakinan.

Diberi nafsu untuk diarahkan.

Artinya, manusia sebenarnya mampu menyelaraskan dirinya sendiri sebelum berusaha menyelaraskan diri dengan orang lain.

Sebab ketidakselarasan dengan dunia luar sering kali berawal dari ketidakselarasan di dalam diri.

Sulit menghargai orang lain ketika akal, hati, dan nafsu saling bertengkar.

Sulit membangun keluarga yang teduh ketika diri sendiri belum menemukan keteduhan.

Sulit membangun komunitas yang harmonis ketika batin pribadi masih dipenuhi kegaduhan.

Karena itu, perjalanan menuju selaras selalu dimulai dari dalam.

Menyelaraskan pikiran dengan keyakinan.

Menyelaraskan keyakinan dengan tindakan.

Menyelaraskan tindakan dengan tujuan hidup.

Ketika keselarasan itu mulai terbentuk, frekuensi batin pun berubah. Dan tanpa disadari, kita mulai menarik orang-orang yang memiliki frekuensi serupa.

Mungkin inilah sebabnya mengapa keteduhan bisa menular.

Mengapa semangat bisa menyebar.

Mengapa kebencian dapat menjalar.

Dan mengapa satu jiwa yang selaras kadang mampu memengaruhi banyak jiwa di sekitarnya.

Sebab manusia tidak hanya berkomunikasi melalui kata-kata.

Manusia juga berkomunikasi melalui frekuensi batinnya.Link internal yang cocok:

Dialektika Batin

Resonansi Antar Jiwa

Teisme dan Keselarasan Komunal

Selaras Akal, Hati, dan Nafsu

Lathifah Rabbaniyah: Sumber Tunggal Kesadaran

Mengapa Kita Nyaman dengan Orang Tertentu?

Menata Dunia di Dalam Diri

Kompas Batin dan Arah Kehidupan

Peta Arah Hidup Berbasis Data

Jalan Pulang Menuju Ruhaniyah

Scroll to Top