Seharian ini aku hadir pada empat acara berbeda. Mulai sedari pukul 08.30 WIB hingga pukul 15.45 WIB.
Bukan, bukan tentang acaranya yang telah selesai itu yang akan aku ceritakan. Melainkan tentang makna.
Acapkali kita berada pada suatu forum, atau hal-hal yang sifatnya komunal, namun pikiran bukan di situ. Badan duduk di ruangan, mata memandang pembicara, tangan sesekali bertepuk; tetapi batin entah sedang berada di mana. Melayang ke tagihan. Ke pekerjaan yang belum selesai. Ke seseorang yang belum membalas pesan. Ke rasa lelah yang tak tahu datang dari mana.
Jika hanya melayang ke satu hal, itu masih wajar. Mungkin melayang pada rencana long week end pekan ini. Atau pada secangkir kopi hangat yang ingin segera diteguk sepulang acara. Tetapi bila melayangnya ke mana-mana, melompat dari satu pikiran ke pikiran lain tanpa arah yang jelas, itu bukan lagi sekadar terdistraksi. Itu tanda bahwa batin sedang kehilangan pusatnya sendiri.
Kita hadir di keramaian, tetapi batin terasa lengang. Langang di nan rami.
Ironisnya, kondisi seperti ini makin sering terjadi pada manusia modern. Kita makin pandai hadir secara fisik, tetapi makin sulit hadir secara utuh. Tubuh ada di satu tempat, pikiran tersebar di banyak tempat, sedangkan hati perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakan momen yang sedang dijalani. Kita hidup dalam percepatan yang tidak memberi ruang cukup bagi batin untuk bernapas.
Mungkin itu sebabnya banyak orang merasa lelah bahkan ketika tidak melakukan pekerjaan berat. Karena yang terkuras bukan sekadar tenaga, melainkan perhatian batin yang terus tercerai-berai. Sedikit melihat notifikasi. Sedikit memikirkan masa depan. Sedikit menyesali masa lalu. Sedikit cemas terhadap penilaian orang lain. Akhirnya kepala ramai, tetapi hati kosong.
Hidup tanpa makna perlahan membuat manusia bergerak seperti robot dengan otak AI; mampu berpikir, menghitung, merespons, dan menjalankan rutinitas, tetapi kehilangan kedalaman rasa. Padahal manusia tidak hanya dibekali akal untuk memahami dunia luar. Ada hati untuk meyakini, ada nafsu untuk menggerakkan keinginan, dan ada batin yang menjadi ruang pertemuan semuanya. Di situlah sebenarnya peta manusia terbentuk.
Peta batin adalah jejak keadaan di dalam diri manusia; tentang ke mana pikirannya condong, apa yang sedang memenuhi hatinya, apa yang sedang dikejar nafsunya, dan apakah semuanya masih bergerak selaras atau justru saling bertabrakan. Saat peta itu mulai kacau, manusia bisa tetap terlihat normal dari luar, tetapi perlahan kehilangan arah di dalam dirinya sendiri.
Mungkin karena itulah manusia modern sangat membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk membaca kembali dirinya sendiri. Sebab sebelum melangkah lebih jauh, manusia perlu tahu terlebih dahulu: sebenarnya batinnya sedang berada di mana.
Nalareka lahir dari kegelisahan itu; sebagai ruang kecil untuk membantu manusia membaca kembali kondisi batinnya di tengah kebisingan zaman digital.
Jika ingin mencoba membaca arah batinmu sendiri, Nalareka telah membuka ruang refleksi sederhana di:
https://survei.nalareka.id